Policy Brief

Memahami Esensi Kesehatan Promotif: Upaya Membangun Kesejahteraan Bersama (2023)

PENULIS AKSAN, M. FAQIH NAUFAL

Abstrak

Masalah Utama 

Policy brief ini mengevaluasi efektivitas program promosi kesehatan di Kabupaten Morowali dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup sehat. Tantangan utama yang diidentifikasi adalah rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan promotif dan preventif, yang diperparah oleh keterbatasan jangkauan edukasi di wilayah-wilayah terpencil. Kajian ini menyoroti perlunya transformasi strategi komunikasi kesehatan agar tidak sekadar menjadi kegiatan formalitas, melainkan mampu menyentuh kebutuhan rill masyarakat secara inklusif.

Temuan Kunci

 Analisis terhadap capaian kinerja kesehatan menunjukkan profil yang kompleks dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, tercatat bahwa 95% pemberi layanan gawat darurat telah memiliki sertifikat kompetensi yang valid, namun angka ini justru merosot tajam menjadi hanya 35% pada tahun 2022. Penurunan signifikan ini mengindikasikan adanya kendala dalam pemeliharaan standar kualitas tenaga medis pascapandemi.

Hingga tahun 2023, hasil observasi lapangan mengungkap bahwa media promosi kesehatan yang tersedia masih sangat terbatas dan belum memanfaatkan platform digital secara optimal. Akibatnya, pesan-pesan kesehatan mengenai pencegahan penyakit menular dan gaya hidup sehat tidak tersampaikan secara merata. Selain itu, ditemukan bahwa rendahnya utilisasi sistem registrasi online pada tahun 2022 (hanya 84% dari target 90%) berkontribusi pada penumpukan antrean fisik di fasilitas kesehatan, yang secara tidak langsung menghambat efektivitas penyampaian informasi kesehatan kepada pengunjung.

Rekomendasi Kebijakan

  1. Digitalisasi Edukasi Kesehatan: Pemerintah daerah perlu mengembangkan konten promosi kesehatan yang kreatif dan interaktif melalui media sosial dan aplikasi digital guna menjangkau generasi muda dan masyarakat di wilayah industri.
  2. Penguatan Kapasitas Tenaga Promkes: Meningkatkan kembali sertifikasi dan pelatihan bagi tenaga kesehatan yang sempat menurun pada tahun 2022 untuk memastikan kualitas edukasi yang diberikan kepada masyarakat.
  3. Pemberdayaan Kader Desa: Mengoptimalkan peran kader kesehatan di tingkat desa untuk melakukan pendekatan door-to-door dalam mensosialisasikan gaya hidup sehat, terutama di wilayah dengan akses informasi terbatas hingga tahun 2023.
  4. Integrasi Promosi dan Layanan: Memanfaatkan sistem antrean digital untuk menyisipkan pesan-pesan edukasi kesehatan, sehingga waktu tunggu pasien dapat menjadi sarana pembelajaran yang produktif.

Pratinjau Dokumen

Akses File Lengkap

Lihat atau unduh melalui Google Drive

Buka di Drive
PUBLISHER
CELYS

Center For Development And Policy Studies.

Kembali ke Riset